JAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Rangga.
- Ribuan manusia perahu dari Afganistan, Pakistan atau Iran ingin
mengadu peruntungan di Australia. Mereka rela menempuh jalur berliku,
melawan ombak, demi menjadi sopir taksi atau kuli di Negeri Kanguru.
Itu yang dilakukan
Khaliqdad Jamdad dan keluarganya Agustus tahun lalu saat memutuskan
untuk memboyong keluarganya ke Australia.
Dia tak punya
pekerjaan tetap di Kabul, Afganistan. Kadang berjualan beras, kadang
menjadi tukang bangunan. Apa pun yang bisa menghasilkan uang. Setelah
menjual rumah dan isinya, Khaliqdad punya uang tunai US$ 23 ribu atau
sekitar Rp 211 juta. Dia lalu mencari agen yang bisa mengatur
perjalanannya ke tanah harapan. Ini bukan hal sulit di Afganistan.
"Saya
sudah pernah tinggal di Australia selama setahun," katanya kepada
Tempo. Dulu, dia juga masuk lewat jalur ilegal, naik kapal laut dan
terdampar di Pulau Christmas. "Sekarang saya ingin anak-anak saya ikut
menikmati hidup yang lebih baik."
Agen yang sanggup mengatur
perjalanan keluarga Khaliqdad bernama Ramazan Ali. Tarifnya US$ 20 ribu
sekitar Rp 186 juta. Menurut kebiasaan di banyak keluarga Afganistan dan
Pakistan, uang sebanyak itu tidak langsung dibayarkan kepada sang agen.
Khaliqdad menitipkannya kepada seseorang, yang bakal menyerahkannya
kepada Ramazan, setelah mereka selamat sampai Australia.
Pada
hari yang disepakati, Khaliqdad dan keluarganya menyeberang ke
Pakistan. Di sana mereka disambut dua agen lain, kolega Ramazan.
"Namanya Hussein Ali dan Haji Kholam," katanya. Khaliqdad lalu menerima
tiket menuju Bangkok, Thailand. Perjalanan pun dimulai.
Di
Bandara Suvarnabhumi, sudah ada orang yang menjemput keluarga Khaliqdad.
Agen lokal ini orang Thai asli. Dengan mobil, keluarga ini lalu dibawa
ke Malaysia. Semua dokumen perjalanan mereka--paspor, visa, bekas
tiket--dibuang. Sekarang mereka resmi menjadi imigran gelap.
Perhentian
berikutnya adalah Terminal Larkin, Johor Baru. Di sini keluarga
Khaliqdad bergabung dengan puluhan imigran lain. Ada yang dari Iran,
Irak, Suriah, Pakistan, dan banyak negara rawan konflik lain. Mereka
lalu dibawa ke daerah Sungai Rengit, kawasan hutan bakau di selatan
Johor Baru.
Di
sepanjang sungai itu ada rumah-rumah mungil 5x6 meter untuk menampung
mereka. Lokasinya yang strategis dan tertutup itu membuatnya ideal
sebagai titik pelarian ke negeri transit selanjutnya: Indonesia.
Pada
Agustus lalu, ketika keluarga Khaliqdad berada di sana, seorang agen
penyelundup lokal Malaysia sibuk menyewa sejumlah sampan kecil untuk
menyeberangkan mereka ke Batam, Kepulauan Riau. Menurut seorang nahkoda
kapal, pengungsi yang mau langsung ke negeri Koala kudu merogoh kocek
sampai 15 ribu ringgit atau lebih dari Rp 45 juta. "Kalau cuma sampai
Batam, hanya 2.000 ringgit," katanya. Mereka diangkut dengan sampan
bermotor yang biasa disebut kapal pompong. Perjalanan makan waktu 2-3
jam.
Khaliqdad dan rombongannya lolos dari radar polisi. Begitu
sampai di Batam, mereka berangkat ke Bandara Hang Nadim. Agen lokal di
sini--kali ini orang Indonesia--sudah menyediakan tiket pesawat dan
dokumen lain.
Perhentian terakhir mereka adalah Cisarua, Jawa Barat.
"Di sana kami ditempatkan di sebuah rumah sewaan di Kampung Anyer," kata
Khaliqdad. Selama delapan bulan berikutnya, keluarga Khaliqdad hidup di
sana. Sampai suatu sore, awal April lalu, ketika telepon genggam
Khaliqdad berdering. Agennya menelepon: ada kapal ke Australia. Tak
sampai sehari, keluarga itu harus bersiap pergi.
Home »
HAL. UTAMA
» Jalur Tikus Manusia Perahu Sampai ke Indonesia
Jalur Tikus Manusia Perahu Sampai ke Indonesia
Written By Tribunekompas.com on Senin, 11 Juni 2012 | 8:22:00 AM
Label:
HAL. UTAMA
