SEMARANG, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Bambang.R.
- Menjelang hari-hari penerimaan siswa baru di berbagai
sekolah di tanah air, pungutan liar atas orangtua calon murid justru
terus marak. Di Jawa Tengah, dilaporkan ada berbagai biaya siluman yang
harus dibayar jika warga ingin anaknya masuk sekolah negeri.
Temuan
ini disampaikan Komite Penyelidikan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, Ahad 8 Juli 2012. “Ada berbagai modus
baik resmi maupun pungutan liar,” kata Koordinator Divisi Pelayanan
Publik KP2KKN Jawa Tengah, Oly Viana Agustine.
Dia lalu
mencontohkan di sebuah SMP Negeri di Salatiga, seorang siswa baru akan
ditarik biaya dengan tiga opsi yaitu Rp 1,5 juta, Rp 1,45 juta dan Rp
1,35 juta. Dalih pembayaran itu adalah untuk pengembangan sarana alat
informasi dan tekhnologi yang membutuhkan anggaran Rp 228 juta.
Sedangkan
di sebuah SMA Negeri di Brebes ada biaya daftar ulang yang dipatok
sekolahan sebesar Rp 4 juta per siswa baru. Biaya tersebut digunakan
untuk 1 stel seragam OSIS, sumbangan pengembangan gedung sebesar Rp 2
juta, kartu OSIS dan SPP bulan Juli.
Di Purwokerto, di sebuah
SMAN di Purwokerto, sebelum ada pengumuman penerimaan, orang tua siswa
harus menandatangani surat pernyataan sanggup membayar sejumlah uang.
Di
daerah Sragen, kata Viana, Dinas Pendidikan setempat pernah mengarahkan
seluruh sekolah di sana agar membeli seragam di toko tertentu. "Tapi
banyak Kepsek yang menolak, karena mahal dan bahannya jelek. Setelah
dihitung-hitung, ternyata keuntungan dari setiap seragam sebesar Rp 15
ribu," kata Viana.
Sekolah memang seringkali menggunakan alasan
pembelian seragam dan pengembangan gedung untuk membenarkan maraknya
pungutan atas orangtua calon murid. Viana memastikan semua pungutan itu
melanggar UU Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan.
Home »
HAL. UTAMA
» Sekolah di Jateng Marak Pungutan Liar
Sekolah di Jateng Marak Pungutan Liar
Written By Tribunekompas.com on Senin, 09 Juli 2012 | 7:49:00 AM
Label:
HAL. UTAMA
